TELAH kita ketahui bahwa iman itu ertinya percaya, yakni percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Percaya akan keberadaan Allah SWT yang menciptakan langit dan bumi. Percaya bahwa Dia-lah yang menciptakan kita semua.
Kita sering beranggapan bahawa diri kita ini telah beriman. Kita selalu melaksanakan syahadat, solat, puasa, zakat, bahkan ada pula yang telahpun menunaikan haji. Apakah benar yang telah melakukan itu dapat dikatakan orang yang sebenar-benar beriman?
Kita sering beranggapan bahawa diri kita ini telah beriman. Kita selalu melaksanakan syahadat, solat, puasa, zakat, bahkan ada pula yang telahpun menunaikan haji. Apakah benar yang telah melakukan itu dapat dikatakan orang yang sebenar-benar beriman?
Jikalau kita yakin bahwa Allah itu ada dan selalu melihat tingkah laku kita, walau yang tersembunyi, sudah takutkan kita melakukan maksiat? Inilah yang perlu menjadi pertanyaan bagi diri kita masing-masing. Kita mengaku beriman, tapi tetap saja melakukan maksiat kepada Allah.
Kita akui bahawa kita melakukan hal-hal yang menjadi rukun Islam. Hanya saja, di samping itu kita pun tak pernah luput dari melakukan perbuatan yang dilarang Allah. Kita yakin bahwa kita selalu diawasi oleh Allah, namun kita tidak merasa bahawa diri kita itu sedang diawasi.
Jika demikian, masih pantaskah kita dikatakan sebagai orang yang beriman? Orang yang beriman, ketika ia telah percaya akan adanya Allah, maka ia selalu yakin dan merasa dirinya diawasi. Maka, ketika akan melakukan maksiat, ia akan mencuba menahan dirinya karena ia tahu bahwa ia sedang diawasi. Begitu pula ketika melaksanakan kewajiban dalam rukun Islam. Ia akan selalu betah atau ingin berlama-lama dalam melaksanakannnya. Karena ia merasa bahwa Allah berada di sampingnya dan ia ingin selalu menjaga itu. Orang yang beriman tidak akan pernah mau Allah SWT berpaling tidak memperhatikan-Nya, sehingga ia berusaha untuk selalu mengingat Allah dalam setiap perbuatannya.
Sekarang, tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah Anda sudah termasuk dalam kategori itu? Jika belum, yuk mari kita sama-sama hadirkan Allah SWT dalam diri kita. Artinya, rasakanlah bahwa Allah itu benar-benar sedang melihat kita. Ingatlah selalu ada pengawal di samping kiri dan kanan kita, sebagai utusan dari Allah untuk mencatat segala perbuatan yang kita lakukan.
Kita akui bahawa kita melakukan hal-hal yang menjadi rukun Islam. Hanya saja, di samping itu kita pun tak pernah luput dari melakukan perbuatan yang dilarang Allah. Kita yakin bahwa kita selalu diawasi oleh Allah, namun kita tidak merasa bahawa diri kita itu sedang diawasi.
Jika demikian, masih pantaskah kita dikatakan sebagai orang yang beriman? Orang yang beriman, ketika ia telah percaya akan adanya Allah, maka ia selalu yakin dan merasa dirinya diawasi. Maka, ketika akan melakukan maksiat, ia akan mencuba menahan dirinya karena ia tahu bahwa ia sedang diawasi. Begitu pula ketika melaksanakan kewajiban dalam rukun Islam. Ia akan selalu betah atau ingin berlama-lama dalam melaksanakannnya. Karena ia merasa bahwa Allah berada di sampingnya dan ia ingin selalu menjaga itu. Orang yang beriman tidak akan pernah mau Allah SWT berpaling tidak memperhatikan-Nya, sehingga ia berusaha untuk selalu mengingat Allah dalam setiap perbuatannya.
Sekarang, tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah Anda sudah termasuk dalam kategori itu? Jika belum, yuk mari kita sama-sama hadirkan Allah SWT dalam diri kita. Artinya, rasakanlah bahwa Allah itu benar-benar sedang melihat kita. Ingatlah selalu ada pengawal di samping kiri dan kanan kita, sebagai utusan dari Allah untuk mencatat segala perbuatan yang kita lakukan.

0 ulasan:
Catat Ulasan